Saturday, 21 July 2018

DITEGAH MENCACI SESAMA ISLAM

Dilarang bagi seorang mukmin caci-mencaci apalagi sampai saling bunuh-membunuh sesama saudaranya. Sikap saling mencaci sesama muslim membawa kepada fasik dan apabila sampai membunuh saudara sesama muslim bererti kafirlah dia.

Dari Ibnu Masud, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Mencaci-maki orang Islam bererti menyalahi agama (fasik), sedangkan memerangi orang Islam bererti kafir.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Disebutkan dalam hadis lain, dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik budi pekertinya, yang lembut perangainya lagi murah hati iaitu mereka yang ramah lagi simpati.”(Hadis Riwayat Tabrani)

Amat jelas kewajiban seseorang muslim adalah saling mencintai, membantu, bersikap peduli dan juga mengasihi saudara seagamanya. Kisah-kisah para sahabat yang rela berkorban dan berjuang untuk para sahabat yang lainnya, semestinya itu menjadi contoh teladan kepada generasi muslim.

Kemudian daripada itu, agar caci-mencaci sesama umat muslim tidak terjadi atau setidaknya dikurangkan, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan. 

Pertama, memohon kepada Allah SWT agar menghilangkan segala prasangka di hati terhadap sesama muslim lainnya. Kedua, jangan putuskan silaturahim. Ketiga, saling berkirim kabar atau nasihat-menasihati walau hanya melalui alam maya. Keempat, jangan segan untuk bantu-membantu sesama muslim.

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Barangsiapa berbuat zalim sekalipun hanya sejengkal tanah, pasti akan dibelenggu hingga tujuh petala bumi.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya, umat Islam tidak boleh menzalimi saudaranya sesama muslim dalam bentuk apapun. Tidak boleh mendiamkan untuk tidak menolongnya jika melihat ia dizalimi. Setiap mukmin diperintahkan saling tolong-menolong.

Muktakhir ini telah merebak di masyarakat amalan perbincangan melalui media sosial dalam pelbagai isu oleh mereka yang dilihat bukanlah tergolong bijak pandai. Mereka tidak menjadikan panduan berbincang yang ditetapkan oleh Islam. Sebab itu, berlaku provokasi dan kenyataan yang keterlaluan hingga boleh mencetusakan perbalahan sesama muslim.

Perbuatan itu bertentangan dengan maksud hadis riwayat Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim tidak bertegur sapa saudaranya lebih dari tiga hari.” (Sahih Muslim No 4641)

Cuba fahami maksud hadis: “Barang siapa yang menghunuskan senjata ke arah saudaranya, maka malaikat akan terus mengutuknya sampai ia melepaskannya meskipun dia itu adalah saudara kandungnya sendiri.” (Sahih Muslim No.4741)

Sesungguhnya orang mukmin itu adalah bersaudara, jikalau mereka berselisih damaikanlah, barang siapa yang melepaskan kesulitan orang Islam niscaya Allah SWT akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat kelak. Dan kita sebagai orang mukmin janganlah saling menganiaya, menghina dan memojokkan. Dan juga janganlah kita berprasangka buruk terhadap sesama umat Islam.

Setiap muslim harus berusaha semaksima mungkin agar anugerah dari Allah SWT tersebut tetap terjaga dan terpelihara pada diri kita. Di antara usaha yang harus ditempuh agar persaudaraan sesama umat Islam tetap terjaga pada diri kita, maka kita perlu memperhatikan hak-hak dalam ukhuwwah.

Hendaklah dia mencintai saudaranya semata-mata kerana Allah SWT dan bukan kerana tujuan-tujuan duniawi. Jika seseorang mencintai saudaranya kerana Allah SWT, maka kecintaan tersebut akan tetap terjaga. Jika dia melakukannya kerana tujuan duniawi, maka lambat laun kecintaan tersebut akan pupus di tengah jalan.

Menjaga kehormatan dan harga diri saudaranya. Kehormatan seorang muslim terhadap muslim yang lainnya adalah haram secara umum. Untuk itu, jangan menyebutkan aib saudaranya, baik ketika dia hadir di hadapannya maupun ketika tidak ada. Tidak mencampuri urusan pribadinya. Menjaga rahasianya. Menjauhi prasangka buruk terhadap saudaranya. 

Allah SWT telah melarang perbuatan tersebut dalam firman-Nya yang bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), kerana sebahagian dari prasangka itu dosa.” (Al-Hujurat, ayat 2)

Menjauhi perdebatan dengan saudaranya. Sesungguhnya perdebatan akan menghilangkan sifat mahabbah (saling mencintai) dan persahabatan. Dan akan  mewariskan kemarahan, dendam dan pemutusan persaudaraan. Maka meninggalkan sikap perdebatan merupakan tindakan yang terpuji.

Hendaklah kita selalu mengucapkan kalimah-kalimah yang baik kepada sesama Islam. Hendaklah sentiasa memaafkan atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh saudara kita. Sesungguhnya setiap orang pasti memiliki kesalahan.

Cara lain untuk menhubungkan silatulrahim ialah berasa gembira dengan kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada saudara kita. Allah SWT telah memberikan keutamaan dan kelebihan yang berbeza-beza pada  setiap  orang. Baik dalam hal kepemilikan harta, keilmuan, banyak melakukan amalan-amalan ibadah, kebaikan akhlaknya dan lain sebagainya.

Kita patut merasa gembira dengan nikmat Allah yang diberikan kepada saudara kita baik dari sisi harta, ilmu, semangat dalam beribadah, dan lain-lain. Kita harus menghilangkan sifat hasad dengki terhadap keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada saudara kita.

Hendaklah juga kita saling membantu dengan saudara dalam perkara-perkara kebaikan.  Sungguh Allah SWT telah memerintahkan dalam firman-Nya yang bermaksud: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Surah Al-Maidah, ayat  2)

Maka kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita semua termasuk dari orang-orang yang saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta menjadikan persaudaraan kita semata-mata kerana mengharap reda-Nya. Dan semoga Allah SWT memberikan taufik-Nya kepada kita, kerana sesungguhnya tidak ada daya dan upaya pada diri kita, kecuali kekuatan dari Allah SWT.